Selasa, 11 Februari 2012 | Faisal al
Zamar
2. Staretegi berikutnya adalah merasakan, Urgensi yang berhasil ”diperlihatkan” kepada pimpinan dan karyawan di seluruh jajaran perusahaan akan membuat Bank yang saya pimpin ”merasakan” perlunya dilakukan berbagai perubahan untuk memecahkan masalah yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi. ”Perasaan” mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat dari pada sekadar membaca angka-angka dalam laporan statistik ataupun laporan bulanan. ”Perasaan” atau emosi yang kuat seperti inilah yang perlu dibangkitkan oleh saya sebagai Gubernur Bank BI untuk menggerakkan para pendukung untuk melakukan perubahan.
3. Staretegi berikut yang akan saya jalankan adalah melakukan perubahan. Setelah emosi kuat untuk berubah tumbuh disetiap hati sanubari para karyawan kami, maka sebagai seorang pemimpin. Saya perlu memberikan arah dan pedoman bagi para pendukung (Seluruh anggota/ Karyawan) untuk melakukan perubahan. Arah dan pedoman ini akan saya bentuk dalam sebuah tim.Tim inilah yang akan berfungsi sebagai tim sukses untuk melakukan perubahan yang akan digulirkan Bank kami ini.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Jika aku menjadi
Gubernur Bank Indonesia staretegi yang akan saya jalankan untuk mewujudkan visi
saya adalah langsung Melihat, Merasakan, dan Melakukan Perubahan.
1. Melihat, strategi melihat yang saya
maksud disini adalah Saya sebagai Gubernur BI melihat langsung bagaimana
bawahan/ karyawan saya bekerja secara maksimal agar misi yang
diinginkan bisa tercapai.
Seorang pimpinan
puncak Bank yang menginginkan adanya perubahan mampu memberikan arahan yang terbaik bagi orang disekitarnya.
Dengan melihat langsung, kita dapat menilai buruknya kualitas layanan kepada pelanggan/nasabah, Saya juga sebagai Gubernur juga akan mencoba menginterview terhadap para nasabah yang kecewa dan sakit hati terhadap layanan yang diberikan. Para nasabah juga diharapkan menceritakan bagian-bagian mana yang membuat mereka tidak puas, Dengan cara melihat itu, kita akan mecoba melakukan pelayanan yang lebih baik lagi.
Dengan melihat langsung, kita dapat menilai buruknya kualitas layanan kepada pelanggan/nasabah, Saya juga sebagai Gubernur juga akan mencoba menginterview terhadap para nasabah yang kecewa dan sakit hati terhadap layanan yang diberikan. Para nasabah juga diharapkan menceritakan bagian-bagian mana yang membuat mereka tidak puas, Dengan cara melihat itu, kita akan mecoba melakukan pelayanan yang lebih baik lagi.
2. Staretegi berikutnya adalah merasakan, Urgensi yang berhasil ”diperlihatkan” kepada pimpinan dan karyawan di seluruh jajaran perusahaan akan membuat Bank yang saya pimpin ”merasakan” perlunya dilakukan berbagai perubahan untuk memecahkan masalah yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi. ”Perasaan” mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat dari pada sekadar membaca angka-angka dalam laporan statistik ataupun laporan bulanan. ”Perasaan” atau emosi yang kuat seperti inilah yang perlu dibangkitkan oleh saya sebagai Gubernur Bank BI untuk menggerakkan para pendukung untuk melakukan perubahan.
3. Staretegi berikut yang akan saya jalankan adalah melakukan perubahan. Setelah emosi kuat untuk berubah tumbuh disetiap hati sanubari para karyawan kami, maka sebagai seorang pemimpin. Saya perlu memberikan arah dan pedoman bagi para pendukung (Seluruh anggota/ Karyawan) untuk melakukan perubahan. Arah dan pedoman ini akan saya bentuk dalam sebuah tim.Tim inilah yang akan berfungsi sebagai tim sukses untuk melakukan perubahan yang akan digulirkan Bank kami ini.
Kriteria lain dari
tim sukses untuk melakukan perubahan adalah:
- kepemimpinan
- integritas
- dan keluasan jaringan hubungan dengan karyawan dalam divisinya dan antardivisi.
Ketiga prinsip di
atas: ”Melihat”, ”Merasakan” dan ”Melakukan perubahan” saya usahakan tidak
bermuara pada pendekatan manajemen, teknis, anggaran, ataupun pendekatan ilmiah
yang canggih lainnya, melainkan bermuara pada manusia-manusia yang terlibat
dalam perubahan tersebut. Dengan demikian langkah yang diambil juga haruslah
yang berujung pada perubahan sikap ”manusia”.
Tentukan Tujuan. Hal
terpenting untuk ditentukan juga dalam organisasi Bank yang saya pimpin
adalah tujuan dari perubahan tersebut, atau dalam bahasa ”gaul” di dunia bisnis
adalah ”Visi”.
Jika visi telah ”diperlihatkan” dan ”dirasakan” oleh seluruh jajaran, bisa lebih mudah dipahami dan dihayati. Dengan demikian seluruh karyawan bisa saling termotivasi untuk ”melaksanakan” upaya untuk mengayuh biduk tujuan Bank ke arah yang sama, sehinga energi yang timbul bisa terkonsolidasi dengan baik dan tujuan bisa lebih cepat terealisasi.
Setelah itu tujuan disosialisasikan ke semua orang di dalam pengorganisasian dari jajaran yang paling terdepan sampai jajaran yang tertinggi.
Antisipasi dan Hilangkan Hambatan. Dalam setiap upaya perubahan, hambatan merupakan hal yang wajar ditemui, namun tak perlu dicemasi. Hambatan terbesar biasanya datang dari orang-orang yang pesimis dan sinis terhadap hasil yang akan diraih melalui perubahan.
Jika visi telah ”diperlihatkan” dan ”dirasakan” oleh seluruh jajaran, bisa lebih mudah dipahami dan dihayati. Dengan demikian seluruh karyawan bisa saling termotivasi untuk ”melaksanakan” upaya untuk mengayuh biduk tujuan Bank ke arah yang sama, sehinga energi yang timbul bisa terkonsolidasi dengan baik dan tujuan bisa lebih cepat terealisasi.
Setelah itu tujuan disosialisasikan ke semua orang di dalam pengorganisasian dari jajaran yang paling terdepan sampai jajaran yang tertinggi.
Antisipasi dan Hilangkan Hambatan. Dalam setiap upaya perubahan, hambatan merupakan hal yang wajar ditemui, namun tak perlu dicemasi. Hambatan terbesar biasanya datang dari orang-orang yang pesimis dan sinis terhadap hasil yang akan diraih melalui perubahan.
Dengan
”memperlihatkan” perencanaan yang rinci, dan strategi yang efektif, karyawan
bisa ”merasa” yakin bahwa hambatan bisa diantisipasi dan diatasi untuk
mempermudah ”melaksanakan” tindakan perubahan.
Jadi, hasil yang akan diraih melalui sebuah perubahan besar perlu dipecah menjadi kemenangan-kemenangan kecil sehingga lebih mudah untuk dicapai, seperti menapak anak-anak tangga secara bertahap. Jadi saya perlu ”memperlihatkan” kesungguhan sebagai seorang Gubernur Bank BI dan para karyawan untuk menghargai setiap kemenangan kecil yang berhasil diraih (misalnya: baik dengan pujian yang lisan, piagam penghargaan, insentif, promosi), sehingga para karyawan ”merasa” tetap bersemangat untuk terus melaju ”melaksanakan” perubahan.
Jadi, hasil yang akan diraih melalui sebuah perubahan besar perlu dipecah menjadi kemenangan-kemenangan kecil sehingga lebih mudah untuk dicapai, seperti menapak anak-anak tangga secara bertahap. Jadi saya perlu ”memperlihatkan” kesungguhan sebagai seorang Gubernur Bank BI dan para karyawan untuk menghargai setiap kemenangan kecil yang berhasil diraih (misalnya: baik dengan pujian yang lisan, piagam penghargaan, insentif, promosi), sehingga para karyawan ”merasa” tetap bersemangat untuk terus melaju ”melaksanakan” perubahan.
Mungkin
itu sedikit ulasan artikel tentang ‘’Jika Aku Menjadi Gubernur BI’’ dari
penulis, semoga terinspirasi . .
Wassalamu’alaikum wr.wb
-
Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar